DIGITAL UNDANGAN

DIGITAL UNDANGAN
terima design undangan digital untuk facebook,twiter,friendster,email dll

Minggu, 22 Januari 2012

Terima kasih untukmu











Masih tak terlihat olehku

Betapa indahnya bias warna sang pelangi…

Mesih juga terasa luka dan hampa

Di dinding hatiku…



Namun semua berbeda…

Keindahan pelangi ada dalam tatapan mata..

Segala rasa pahit dalam hidupku tak lagi kurasa..

Saat ku sadar ada hadirmu dalam airmataku..

Saatk ku lihat ada bayangmu saat aku sendiri…

Kini senyum terlukis penuh pesona diwajahku..

Kini bahagia bermekaran bagai bunga di taman cinta..

Tak ada lagi luka tergores dihatiku..

Tiada lagi air mata menghiasi wajahku..



Terima kasihku untukmu…

Telah kau lukiskan dalam kanvas langitku

Sebuah pelangi sejuta warna…

Yang kini setia hiasi hiasi hariku..



Aku tak kan pernah melupakan kamu…

Selamanya sepanjang aku berpijak dibumi..

Karena hanya kau yang mampu membuat

Aku tersenyum bahagia

Disaat aku terluka…

Biarlah Aku

pabila cinta memanggilmu

Biarlah aku datang menggantikan malam
Yang telah lelah menemani hari-harimu
Dengan setangkai purnama
Semerbak wangi membalut asa
Menebar sajian keindahan malam
Temani detikdetik indah mimpimu
Hingga surya tersenyum menyambut bahagia pagimu
“…pabila cinta memanggilmu… ikutilah dia walau jalannya berliku-liku… Dan, pabila sayapnya merangkummu… pasrahlah serta menyerah, walau pedang tersembunyi di sela sayap itu melukaimu…”

“…kuhancurkan tulang-tulangku, tetapi aku tidak membuangnya sampai aku mendengar suara cinta memanggilku dan melihat jiwaku siap untuk berpetualang”

“Tubuh mempunyai keinginan yang tidak kita ketahui. Mereka dipisahkan karena alasan duniawi dan dipisahkan di ujung bumi. Namun jiwa tetap ada di tangan cinta… terus hidup… sampai kematian datang dan menyeret mereka kepada Tuhan…”

“Jangan menangis, Kekasihku… Janganlah menangis dan berbahagialah, karena kita diikat bersama dalam cinta. Hanya dengan cinta yang indah… kita dapat bertahan terhadap derita kemiskinan, pahitnya kesedihan, dan duka perpisahan”

“Aku ingin mencintaimu dengan sederhana… seperti kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu… Aku ingin mencintaimu dengan sederhana… seperti isyarat yang tak sempat dikirimkan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada…”

“Jika cinta tidak dapat mengembalikan engkau kepadaku dalam kehidupan ini… pastilah cinta akan menyatukan kita dalam kehidupan yang akan datang”

“Apa yang telah kucintai laksana seorang anak kini tak henti-hentinya aku mencintai… Dan, apa yang kucintai kini… akan kucintai sampai akhir hidupku, karena cinta ialah semua yang dapat kucapai… dan tak ada yang akan mencabut diriku dari padanya”

“Kemarin aku sendirian di dunia ini, kekasih; dan kesendirianku… sebengis kematian… Kemarin diriku adalah sepatah kata yang tak bersuara…, di dalam pikiran malam. Hari ini… aku menjelma menjadi sebuah nyanyian menyenangkan di atas lidah hari. Dan, ini berlangsung dalam semenit dari sang waktu yang melahirkan sekilasan pandang, sepatah kata, sebuah desakan dan… sekecup ciuman”

kahlil ghibran
pemadaman lilin berdua simbolisasi dari salah satu cara meredam amarah secara bersama,seberat apapun permasalahn dalam rumah tangga pasti ada dalam setiap rumah tangga tergantung bagaimana kita menyikapinya .

Jumat, 20 Januari 2012

kesetiaan kita

sudah banyak yang kau beri,bukanlah sebuah materi tapi segenggam kesetiaan..
setia yang kau beri tak semudah aku bayangkan tuk mendapatkanya…
bayangkan hanya dalam sekejap kau menghilang… rasa ini merintih dan berbisik tuk mengejar ,memeluk,dan takkan ku biarkan lepas begitu saja..
setiamu aku yang genggam begitu pula sebaliknya..setiaku kau yg menggenggam..jangan jadikan jarak menjadi sebuah halangan untuk mnunjukkan kesetiaan…

Jika saatnya nanti

Suatu saat apabila rambutku beruban

jika nanti gigiku tanggal

apabila kulitku mulai lembek dan berkerut

Mungkin nanti saatnya tubuhku bungkuk

itu mulai membuktikan bahwa selama ini aku yang selalu setia disampingmu tepat disini dihati.

dan itu semua dimulai dari hari ini.

Mimpi ~ Khalil Gibran


Kala malam datang dan rasa kantuk membentangkan selimutnya di wajah bumi, aku bangun dan berjalan ke laut, “Laut tidak pernah tidur, dan dalam keterjagaannya itu laut menjadi penghibur bagi jiwa yang terjaga.”,

Ketika aku sampai di pantai, kabus dari gunung menjuntaikan kakinya seperti selembar jilbab yang menghiasi wajah seorang gadis. Aku melihat ombak yang berdeburan. Aku mendengar puji-pujiannya kepada Tuhan dan bermeditasi di atas kekuatan abadi yang tersembunyi di dalam ombak-ombak itu – kekuatan yang lari bersama angin, mendaki gunung, tersenyum lewat bibir sang mawar dan menyanyi dengan desiran air yang mengalir di parit-parit.

Lalu aku melihat tiga Putera Kegelapan duduk di atas sebongkah batu. Aku menghampirinya seolah-olah ada kekuatan yang menarikku tanpa aku dapat melawannya.

Aku berhenti beberapa langkah dari Putera Kegelapan itu seakan-akan ada tenaga magis yang menahanku. Saat itu, salah satunya berdiri dan dengan suara yang seolah berasal dari dalam laut ia berkata:
“Hidup tanpa cinta ibarat pohon yang tidak berbunga dan berbuah. Dan cinta tanpa keindahan seperti bunga tanpa aroma semerbak dan seperti buah tanpa biji. Hidup, cinta dan keindahan adalah tiga dalam satu, yang tidak dapat dipisahkan ataupun diubah.”

Putera kedua berkata dengan suara bergema seperti air terjun,”Hidup tanpa berjuang seperti empat musim yang kehilangan musim bunganya. Dan perjuangan tanpa hak seperti padang pasir yang tandus. Hidup, perjuangan dan hak adalah tiga dalam satu yang tidak dapat dipisahkan ataupun diubah.”

Kemudian Putera ketiga membuka mulutnya seperti dentuman halilintar :

“Hidup tanpa kebebasan seperti tubuh tanpa jiwa, dan kebebasan tanpa akal seperti roh yang kebingungan. Hidup, kebebasan dan akal adalah tiga dalam satu, abadi dan tidak pernah sirna.”
Selanjutnya ketiga-tiganya berdiri dan berkata dengan suara yang menggerunkan sekali:

‘Itulah anak-anak cinta,
Buah dari perjuangan,
Akibat dari kebebasan,
Tiga manifestasi Tuhan,
Dan Tuhan adalah ungkapan
dari alam yang bijaksana.’

Saat itu diam melangut, hanya gemersik sayap-sayap yang tak nampak dan getaran tubuh-tubuh halus yang terus-menerus.

Aku menutup mata dan mendengar gema yang baru saja berlalu. Ketika aku membuka mataku, aku tidak lagi melihat Putera-Putera Kegelapan itu, hanya laut yang dipeluk halimunan. Aku duduk, tidak memandang apa-apa pun kecuali asap dupa yang menggulung ke syurga.

~ Khalil Gibran ~